Minggu, 18 September 2016



nilai-nilai asas Jati Diri Melayu yang DaPat DiJaDikan
Perekat Persatuan Dan kesatuan Bangsa


Di antara nilai-nilai asas budaya Melayu yang menjadi jati diri kemelayuan orang Melayu sejak turun-termurun adalah:


1)  nilai keterbukaan dalam kemajemukan


Budaya Melayu adalah budaya “bahari yang juga disebut sebagai budaya “kelautan”. Kehidupan kelautan yang berabad-abad mereka tempuh, menyebabkan kebudayaan ini menjadi sangat terbuka. Beragam puak dan suku bangsa mendatangi daerah Melayu, kemudian berbaur dan berintegrasi  turun-temurun,  sehingga  melahirkan  masyarakat  Melayu yang majemuk. Dari keberagaman suku bangsa dan puak itu serta beragam kontak-kontak budaya dengan berbilang bangsa, lambat-laun membentuk kebudayaan Melayu yang majemuk pula.


Kemajmukan ini menyebabkan masyarakat selalu terbuka kepada semua pihak yang datang, kemudian berbaur dan melebur dalam alam Melayu. Melalui keterbukaan itulah orang-orang Melayu selalu menerima siapa saja yang datang ke daerahnya, yang mereka sambut dengan  ‘muka yang jernihdan ‘hati yang lapang’, kemudian mempersilakannya untuk hidup dan berusaha, serta memberikan untuk menetap dan berketerununan. Jalinan hubungan mesra inilah yang selalu bermuara kepada ikatan perkahwinan sehingga wujudlah kekerabatan yang kekal. Selain itu, adat Melayu memberi peluang kepada siapa saja yang ikhlas untuk mengikat tali persaudaraan melalui upacara adat yang disebut “begito”, yakni mengaku bersaudara dunia akhirat.


Sejarah Riau mencatat, dari keterbukaan itu pula wujudnya pemimpin- pemimpin Melayu yang berasal dari luar. Misalnya, Sultan Siak sejak abad ke-18 bercampur dengan Arab, sehingga membentuk dinasti sultan-sultan

71

keturunan Arab sampai sultan terakhir, yakni Sultan Syarif Kasim II yang kemudian diangkat sebagai Pahlawan Nasional.


Selanjutnya, Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah dari kerajaan Riau Johor mengangkat bangsawan Bugis Daeng Marewah menjadi Yang Dipertuan Riau I (1722 M) di Bintan. Keturunan beliau ini melahirkan Raja Haji Syahid Fi Sabilillah yang juga diangkat sebagai Pahlawan Nasional dan salah seorang keturunannya adalah Raja Ali Haji, pujangga Melayu yang handal, yang menulis di antaranya “Gurimdam Dua Belas” dan  “Kitab Tata  Bahasa  Melayu”,  sehingga  kemudian  bahasa  Melayu dijadikan bahasa persatuan Indonesia.


Perilaku keterbukaan ini pula yang menyebabkan raja-raja dari kerajaan Rokan (Tambusai, Dalu-dalu, Kepenuhan, Rambah, Rokan IV Koto dan lain-lain) secara ikhlas menerima masyarakat dari Tapanuli (Mandailing dan Batak) untuk bermukim di wilayah kerajaannya, serta diberikan kawasan pemukiman dan usaha turun-temurun hingga saat ini.


Perlakuan yang sama diperlakukan terhadap pendatang dari Jawa, Minangkabau dan sebagainya, sehingga lambat-laun masyarakat Melayu Riau menjadi semakin majmuk, namun hidup dalam kerukunan yang nyaman.

Pembauran suku yang terjadi pada masa kerajaan Siak Sri Indrapura, dapat dibuktikan dari naskah kuno “Bab Al-Qawaid (Pintu Segala Pegangan), yakni Kitab Undang-undang kerajaan Siak Sri Inderapura, khususnya Bab yang kedua puluh, disebutkan:



Alif:







Ba:

Suku Tanah Datar dari anak bumipun ada sukunya dari orang Minangkabau  yang  mana  luwak Tanah  Datar  Minangkabau yang datang ke Siak Sri Indrapura serta jajahan takluknya jadi suku Tanah Datar.


Suku Lima Puluh dari anak bumipun ada sukunya dari orang Minangkabau pun ada, yang mana luwak Lima Puluh di Minangkabau yang datang ke Siak Sri Indrapura serta jajahan takhluknya jadi suku Lima Puluh.

72


Ta:







Sa:








Jim:

Suku Pesisir dari anak bumipun ada sukunya dari orang Minangkabau yang mana luwak Agam Pesisir di Minangkabau yang datang ke Siak Sri Indrapura serta jajahan takluknya jadi suku Pesisir.


Suku Kampar dari anak bumipun ada sukunya dan mana negeri Kampar yang tiada bekerja, iaitu orang besar sahaja kepala negeri itu yakni orang lima Koto dan orang Koto Baru yang mana datang ke Siak Sri Indrapura serta jajahan takluknya jadi suku Kampar.


Suku Hamba Raja Dalam dari anak bumipun ada sukunya dari orang dagang  dari  mana-mana  negeri  yang  ada  beraja  dari negeri Kampar Kiri, negeri Kampar Kanan, negeri Rokan Kiri, negeri Rokan Kanan, negeri Kota Intan, Negeri Tambusai, negeri Kepenuhan, negeri Rambah, dan dari Jawa dan Siam dan Keling dan Batak datang ke Siak Sri Indrapura serta jajahan takluknya jadi suku Hamba Raja Dalam.

Dan lagi adalah yang dinamakan Hamba Raja Dalam itu ada, asalnya datang dari empat suku dan ada asalnya datang dari Hamba Raja Empat Suku dan ada kalanya datang dari lain suku. Maka apabila sudah terang masanya menjadi hamba Raja Dalam juga sampai turun-temurun jadi Hamba Raja Dalam sebelah ibunya*.



Terjadinya persebatian antara masyarakat pendatang dengan penduduk tempatan tentu saja tidak terlepas dari perilaku semua pihak. Yang datang tahu diri demikian pula yang tempatan. Asas hidup “di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung, di mana air disauk, di sana ranting dipatah” dahulu memang ditaati oleh semua orang. Asas ini sebagai perwujudan tahu diri menyebabkan jarak antara pendatang dengan penduduk tempatan semakin mengecil, dan akhirnya melebur dalam satu kesatuan yang utuh dan kental.

73

Keterbukaan budaya Melayu selalu dikawal dengan asas kearifan semua pihak. Petua orang tua-tua yang mengatakan “pantang mengorang- orang di kampung orang; pantang menghulu-hulu di kampung penghulu; pantang meraja-raja di kampung rajamerupakan maklumat yang ditaati. Demikian pula dengan asas: “mengambil hak orang berunding sesama awak; mengambil hak orang berunding dengan orang”, mewujudkan rasa kearifan untuk saling menjaga hak masing-masing.


Terhadap masyarakat tempatan, adat mengingatkan untuk menjaga pelihara diri dan kampung halamannya secara saksama, agar dapat menunjukkan kepada pihak lain tentang hak dan tanggungjawabnya. Ungkapan adat mengatakan: “rumah dijaga dengan amanah, kampung dijaga dengan maruah, dusun dijaga dengan kaedah, negeri dijaga dengan petuah”. Petuah ini dianggap penting agar orang tidak berbuat semena- mena dan tidak menganggap kawasan itu sebagai kawasan “tidak bertuan”.


Ungkapan adat mengatakan: “bila halaman tidak berpagar, bila rumah tidak berdinding, angin lalu tempias lalu, aib terdedah malu tersimbah”.


2)  nilai yang islami


Budaya Melayu adalah budaya yang menyatu dengan ajaran agama Islam. Nilai Keislaman menjadi acuan dasar budaya Melayu. Kerananya, budaya Melayu tidak dapat dipisahkan dari Islam, sebagaimana tercermin dari ungkapan adat: “Adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah, syarak mengata adat memakai,  syah kata syarak, benar kata adat, bila bertikai adat dengan syarak, tegakkan syarak”, dan sebagainya.


Namun demikian, tidaklah bermakna bahawa budaya Melayu menolak masyarakat yang tidak satu akidah, bahkan sebaliknya menganjurkan untuk  hidup  saling  hormat-menghormati,  saling  harga-menghargai, saling bertenggang-rasa, tolong-menolong dan seterusnya. Nilai inilah yang sejak dahulu mampu mewujudkan kerukunan hidup antara umat beragama di bumi Melayu.

74

Ungkapan adat mengatakan: “adat hidup berbilang bangsa, pantang sekali hina-menghina, pantang pula cerca-mencerca”. Selanjutnya dikatakan: “adat hidup berlainan akidah, sama bijak menjaga lidah, sama arif memelihara langkah, sama bijak mengatur tingkahyang intinya mengingatkan agar perbezaan agama haruslah disikapi dengan arif dan bijak, serta dengan perilaku yang saling hormat-menghormati.


Orang tua-tua Melayu mengatakan, bahawa hakikatnya, nilai-nilai Islami itu secara umum disebut: “Sifat tahu asal mula jadi, tahu berpegang pada yang Satu”. Sifat ini cerminan dari kesedaran dirinya sebagai insan ciptaan dan hamba Allah, yang menimbulkan kesedaran untuk sentiasa berbuat kebaikan di jalan Allah. Kesedaran ini meningkatkan kualitas keimanan   dan   ketaqwaan   seseorang,   serta   menumbuhkan   perilaku terpuji dalam kehidupan berumah tangga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, sehingga wujudlah Islam yang Rahmatan Lil Alamin.
Melalui ungkapan-ungkapan disebut: Tahu asal mula jadi
Tahu berpegang pada yang Satu
Hamba tahu akan Tuhannya
Makhluk tahu akan Khaliknya


Yang agama berkukuhan Yang iman berteguhan Yang sujud berkekalan Yang amal berkepanjangan


Sesama manusia ia berguna
Sesama makhluk ianya elok


Di dunia membawa tuah
Di akhirat beroleh rahmat

75

3)  nilai senenek dan semoyang


Nilai ini mengajarkan orang untuk merasa seasal dan seketurunan, yakni sama-sama anak cucu Adam. Dalam ruang lingkup yang lebih kecil, menyedarkan  orang  akan  kesamaan  nenek  moyangnya  yakni  berasal dari Rumpun Melayu yang satu. Nilai ini mampu menumbuhkan rasa kekeluargaan dalam erti luas, sebagai sampai peringkat persebatian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Ungkapan pantun ada mengatakan: Ketuku batang ketakal
Kedua batang keladi muyang
Sesuku kita seasal
Senenek kita semoyang


Selanjutnya dijelaskan:


Tanda merasa senenek semoyang
Duduk bersama berkasih sayang
Tegak beramai tenggang-menenggang
Berfikiran jernih berdada lapang
Orang tua-tua memberi petuah:  
Tanda Melayu sama serumpun 
Dalam bercakap bersopan santun Dalam susah santun
menyantun Dalam senang tuntun-menuntun
Petuah lain mengatakan: Tanda orang sama seasal
Sakit senang kenal-mengenal
Jauh dekat ingat-mengingat
Elok buruk jenguk-menjenguk

Sempit lapang jelang-menjelang
Tua muda jaga-menjaga


4)  nilai seaib dan semalu


Nilai saling memelihara hubungan antara peribadi maupun antara kelompok masyarakat. Nilai ini mengajarkan dan menyedarkan orang agar hidup saling menjaga pelihara hubungan baik, saling menjaga maruah, saling menjaga agar tidak melanggar “pantang larang yang terdapat di dalam setiap suku dan puak, saling menjaga agar tidak ada perilaku hujat- menghujat, maki-memaki, caci-mencaci, fitnah-memfitnah dan sebagainya yang dapat menimbulkan aib malu bagi orang maupun dirinya sendiri, atau dapat menimbulkan pertelikaian dan perpecahan di dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.
Ungkapan adat mengatakan: Tanda hidup seaib semalu
yang buruk sama dibuang
yang keruh sama dijernihkan yang kusut sama diluruskan yang menyalah sama dibetulkan salah besar diperkecil
salah kecil dihabisi


Selanjutnya dikatakan:


Aib jangan dibendangkan
Malu jangan disingkapkan atau dikatakan:
Aib orang jangan dibilang
Aib diri yang kita kaji

77
5)  nilai senasib sepenanggungan


Nilai menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial untuk saling tolong- menolong, bantu-membantu, ingat-mengingat dalam kehidupan sehari- hari. Dari sisi lain, nilai ini dapat menumbuhkan rasa kebersamaan dan menjauhkan perilaku yang hanya mementingkan diri sendiri, kelompok, golongan  atau  kaum  dan  sukunya  saja.  Dengan  demikian,  nilai  ini dapat meredam tumbuhnya kesenjangan sosial, dapat menjauhkan kecemburuan sosial baik antara sesama anggota masyarakat maupun antara suku dan etnis dan dapat pula mengikis sifat dengki dan iri- mengiri, sifat mau menang sendiri, sehingga dapat mewujudkan tali persaudaraan yang kental.


Ungkapan adat mengatakan:


Tanda senasib sepenanggungan bila ke laut sama basah
bila ke darat sama kering bila mendapat sama berlaba bila hilang sama berugi
bila berlebih beri-memberi bila kurang isi-mengisi


atau dikatakan:


Adat senasib sepenanggungan dalam sempit sama berhimpit dalam lapang sama melenggang
Orang tua-tua mengingatkan pula: Bertuah bangsa seia sekata
Bertuah negeri bersatu hati

6)  nilai seanak sekemenakan


Nilai ini mengajarkan orang agar merasa bertanggung jawab terhadap setiap anggota masyarakat  tanpa memandang  asal suku, keturunan dan sebagainya. Asas “seanak-sekemenakan menganjurkan orang untuk peduli terhadap pertumbuhan dan perkembangan masyarakatnya, agar saling nasihat-menasihati, tegur-menegur untuk kebaikan dan kebajikan bersama. Nilai ini dapat menumbuhkan rasa keadilan, serta dapat memberikan perlindungan yang sama terhadap seluruh anggota masyarakat.
Di dalam ungkapan adat dikatakan: Adat seanak-kemenakan
yang anak sama dipinak
yang kemenakan sama dibela yang jauh diperdekat
yang menyalah diberi petuah yang terlanjur sama ditegur
Orang tua-tua memberi petuah: Tanda seanak-sekemenakan
Seayun langkah seiring jalan


Nilai  ini  mengajarkan  pula  agar  setiap  orang  saling  menghormati para pemimpin, tokoh dan tetua-tetua dari setia kelompok   masyarakat. Kebersamaan pandangan ini dapat mewujudkan kebersamaan dalam menyelesaikan permasalahan, dapat melakukan musyawarah mencari muafakat dan dapat menghilangkan rasa kesukuan yang sempit.
Ungkapan ada mengatakan: Tanda seinduk dan sebahasa
Menyanggah tidak mencerca
Bercakap tidak menista


atau dikatakan:


Tanda orang senenek-semamak Petuah diingat amanah disemak Seia sekata duduk dan tegak


Ungkapan lain mengatakan:


yang tua sama dipercaya yang muda sama dipelihara


atau dikatakan:


yang sudah dituakan orang cakapnya sama dipegang petuahnya sama dikenang


Ungkapan ini memberi petunjuk bahawa siapa pun orang yang sudah “dituakan (dijadikan pemimpin) oleh masing-masing suku dan puak, cakapnya harus didengar dan dihormati, serta dihormati menurut alur dan patutnya.


7)  nilai seadat sepusaka, sepucuk setali Darah


Nilai ini mengajarkan untuk saling mengkaji asas-asas nilai adat dan budaya yang memiliki kesamaan, kemudian menjadikannya sebagai simpai pengikat, dijadikan benang penghubung, dijadikan acuan bersama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Melalui kesamaan nilai-nilai luhur adat dan budaya itulah ditumbuhkan rasa persaudaraan yang kekal, yang dapat mewujudkan terjalinnya hubungan tali darah atau tali persaudaraan yang kental.


Ungkapan adat mengatakan:


Walau pun lain padang lain belalang
Lain lubuk lain ikannya

80
Namun yang belalang tetaplah belalang
Yang ikan tetaplah ikan
Dalam berbeda banyak samanya


Selanjutnya dikatakan:


Yang belalang sama ketingnya
Yang ikan sama insangnya
Orang tua-tua Melayu memberi petuah: Untuk menyelesaikan masalah
cari puncanya;
Untuk menyelesaikan sengketa cari simpulnya;
Untuk menyatukan orang cari kesamaannya;
Untuk memelihara silaturahmi mana yang sama dijadikan tali; Berbezaan pendapat
hormat-menghormat.


Para   tetua   masa   silam   memahami   benar   bagaimana   mencari kesamaan antara suku dan bangsa. Mereka mencari mengatakan unsur- unsur kesamaan itu terdapat pada hati nurani, pada nilai-nilai asas kemanusiaan yang universal. Misalnya: “pantang ikan kekeringan, pantang manusia kehinaan”; “pantang tua dilangkahi, pantang muda dipelesi”; atau dikatakan: “pantang jantan dipermalukan; pantang perempuan dihinakanatau dikatakan: “pantang mamak diperbudak, pantang kemenakan disia-siakan”.


8)  nilai sesampan dan sehaluan


Nilai ini menyedarkan orang tentang kehidupan berbangsa dan bernegara,   agar   mereka   turut   menyelamatkan,   memelihara   bangsa dan negaranya, kemudian menyatukan tekad dan niat untuk mencapai

azam dan matlamat tekad dan niat untuk mencapai azam dan matlamat dalam pembangunan hari depannya. Nilai ini dapat menumbuhkan rasa nasionalisme yang tinggi, menyuburkan rasa kesetiakawanan sosial, mengekalkan  rasa  patriotisme  serta  menjauhkan  orang  dari  perilaku yang dapat memecah-belahkan bangsa dan negaranya. Budaya Melayu selalu mengibaratkan kerajaan, negara bagaikan sebuah sampan, perahu atau bahtera yang besar yang di dalamnya hidup rakyat dengan nakhoda sebagai pemimpinnya.


Sampan,   bahtera   atau   perahu   atau   lancang   itu   akan   berlayar dengan selamat apabila seluruh awaknya dapat menjalin kebersamaan, menyatukan tujuan dan cita-citanya. Selanjutnya sang nakhoda sebagai pemimpin  haruslah  mampu  mengendalikan  arahnya  secara  baik  dan benar agar tujuan bersama wujud dengan sebaik-baiknya.
Di dalam lagu Lancang Kuning diabadikan petuah amanah: Lancang Kuning berlayar malam
Haluan menuju ke lautan dalam
Kalau nakhoda kurang faham
Alamat kapal akan tenggelam


Ungkapan adat mengatakan:


Elok berkayuh sama merengkuh Elok berdayung sama sealun Elok berjalan sama pedoman Elok belayar sama tujuan


Adat sesampan satu haluan Adat belayar satu kemudi Adat memerintah satu titah Adat memimpin satu petuah

82

Selanjutnya dikatakan:


Adat belayar di tengah laut Pedoman diingat petunjuk diikut Dikemudikan menurut alur dan patut Supaya selamat menentang ribut


9)  nilai Mendapat sama Berlaba, hilang sama Merugi


Nilai ini mengajarkan orang agar menjunjung tinggi keadilan dan kebersamaan dalam berusaha, atau dalam memanfaatkan SDA dan sebagainya. Pemanfaatan sumber daya alami, kebijakan ekonomi dan sebagainya, hendaklah mengacu kepada asas keadilan dan pemeratan, serta memberi manfaat yang sebesarnya bagi seluruh rakyatnya.


Nilai ini mengajar orang untuk tidak bersifat serakah, untuk tidak mencari keuntungan bagi diri atau kelompok sendiri saja, tetapi mengutamakan kebersamaan dan pemeratan yang adil. Dari sisi lain, nilai ini menyiratkan agar menjauhkan monopoli, menjauhkan kebijakan dan usaha yang dapat merosak ekonomi bangsa dan negara. Nilai ini juga memberi petunjuk, agar apa pun peluang yang ada, apa pun kebijakan yang dibuat, hendaklah memberikan sebesar-besar manfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara. Sedangkan apa pun permasalahan yang timbul, haruslah menjadi tanggung jawab bersama untuk mengatasi dan menyelesaikannya.
Ungkapan adat mengatakan: Makan jangan menghabiskan
Minum jangan mengeringkan
Orang tua-tua mengingatkan: Makan jangan kenyang seorang
Ingat-ingat penderitaan orang

8
atau dikatakan:


Mencari laba berhingga-hingga
Mencari untung berhitung-hitung atau dikatakan:
Harta jangan membawa buta Pangkat jangan membawa sesat Usaha jangan membawa bencana


Selanjutnya diingatkan lagi:


Adat makan jangan menyetan Adat berusaha jangan aniaya Adat berniaga janganlah loba


10) nilai  Menegakkan  Maruah  dalam  Musyawarah,  Menegakkan
Daulat dalam Muafakat


Nilai mengajarkan orang agar mengutamakan musyawarah dan muafakat, baik merancang sesuatu mau pun menyelesaikan permasalahan yang ditimbul. Nilai ini mengingatkan pula bahawa maruah dan tuah, harkat dan martabat, daulat dan harga diri akan terpancar di dalam mewujudkan musyawarah dan muafakat. Asas musyawarah dan muafakat sebagai asas utama dalam adat hendaklah dijadikan acuan dan landasan dalam kehidupan sehari-hari, agar rasa kebersamaan, saling hormat-menghormati, saling isi- mengisi, saling menunjuk ajari dapat berlangsung dengan sebaik-baiknya.


Ungkapan adat mengatakan:
Di dalam musyawarah banyak faedah
Di dalam muafakat banyak manfaat


atau dikatakan:
Duduk musyawarah membawa berkat
Duduk muafakat membawa rahmat

84
Ungkapan lain mengatakan:


Di dalam musyawarah dan muafakat itulah yang kusut diselesaikan
yang keruh dijernihkan
yang berbongkol sama ditarah yang kesat sama diampelas yang bengkok diluruskan
yang menyalah dibetulkan
Orang tua-tua mengingatkan:
Sempurna kerja kerana bersama 
sempurna helat kerana muafakat atau dikatakan
Berdiri maruah kerana musyawarah tegak adat kerana muafakat
Di dalam Tunjuk Ajar Melayu dikatakan: Apa tanda orang bermaruah
Santun dan hormat dalam musyawarah


Apa tanda orang beradat
Tahu diri dalam muafakat


Orang tua-tua juga mengajarkan untuk menghargai silang pendapat, terutama dalam melakukan musyawarah untuk mencapai muafakat. Silang pendapat boleh saja terjadi, dan memang wajar terjadi, namun jangan sampai memecah-belah kerukunan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

85

Ungkapan adat mengatakan:


Adat duduk di dalam musyawarah tentu banyak bersilang lidah
Adat duduk bermuafakat tentulah banyak silang pendapat


Yang perlu diarifi ialah agar silang pendapat jangan merosak kerukunan hidup atau membawa kepada pertelikaian dan perpecahan, atau membawa kepada dendam kesumat dan perseteruan.


Adat mengatakan:


Bila terjadi silang pendapat jangan memecah umat


Bila terjadi selisih faham
jangan sampai menjadi dendam


Bila pendapat tidak sejalan jangan menjadi pertelikaian


Bila pendapat tidak sesuai jangan sampai telikai


Bila pendapat tidak sejudu jangan sampai menjadi seteru
Selanjutnya orang tua-tua mengingatkan pula: Adat berunding mencari muafakat
jauhkan sifat hujat-menghujat


Adat berunding orang terpuji jauhkan sifat keji-mengeji

86

Adat berunding orang berilmu pantang memberi aib dan malu


atau dikatakan:


Adat berunding orang beriman pantang mencerca mencari lawan


Adat duduk bermusyawarah
pantang sekali fitnah-memfitnah


Budaya Melayu amatlah sarat dengan tunjuk ajar mengenai musyawarah untuk muafakat, kerana musyawarah dan muafakat adalah sendi dalam kehidupan mereka turun-temurun. Keutamaan musyawarah dan muafakat serta tatacara melaksanakannya diatur dalam ketentuan adat yang mereka warisi turun-temurun.


11) nilai Bercakap Bersetinah, Berunding Bersetabik


Nilai ini mengajarkan orang untuk tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kesantunan, berperilaku sopan, tertib dan pekerti mulia. Nilai ini juga mengajarkan agar memelihara lidah, menjaga tingkah laku, menjauhkan sifat kasar langgar, memantangkan mencaci orang, berlagak kuasa dan sombong, merendahkan orang lain, mau menang sendiri, besar kepala, angkuh dan sebagainya.


Nilai ini tentulah sangat bermanfaat dalam membentuk kehidupan yang tertib, aman dan damai, amat berfaedah dalam mewujudkan masyarakat yang saling hormat-menghormati, saling harga-menghargai, saling tahu diri dan saling memelihara diri.
Ungkapan adat mengatakan: Apa tanda orang beradat
elok perangai sempurna sifat

87

Apa tanda orang terpandang bercakap tidak menista orang


Apa tanda orang bermaruah kalau berbicara tidak menyalah


Apa tanda orang berakal dalam berbual tidak membual
Ungkapan lain menyebutkan: Apa tanda orang beriman
perangainya elok berbicaranya sopan


Apa tanda orang terpuji bercakap tidak keji-mengeji


Apa tanda orang bertuah
menyanggah tidak sumpah-menyumpah
Di dalam tunjak ajar dikatakan pula: Apabila hendak rukun dan damai
elokkan laku baikkan perangai


Apabila perilaku bersopan santun negeri aman hidup pun rukun


atau dikatakan:


Apabila hidup tahukan diri maruah tegak tuah berdiri


Apabila negeri hendak sentosa elokkan dulu budi bahasa

88

Budaya Melayu, dan kita yakini pula semua budaya suku, puak dan etnis lainnya tentulah menjunjung tinggi nilai-nilai etika, nilai kesantunan baik dalam berbicara bergaul dan sebagainya. Kesantunan itu sudah menjadi bahagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat, dan sangat diutamakan dalam ajaran agama-agama di muka bumi ini.


12) nilai tahu akan Bodoh Diri


Sifat menyedari segala kekurangan dan kelemahan diri sendiri, mengetahui  cacat  dan  cela  diri  sendiri.  Sifat  ini  akan  mendorongnya untuk bersungguh-sungguh menutupi kekurangan dan kelemahannya, memperbaiki segala kekeliruan dan kesalahan, serta memacunya untuk berusaha sehabis daya menuntut ilmu pengetahuan, mencintai ilmu pengetahuan serta menghormati ilmu dan kelebihan orang lain.
Orang tua-tua Melayu mengatakan: Seburuk-buruk Melayu
ialah Melayu yang bebal bercampur dungu


Sifat ini memberi arahan, agar manusia pantang sekali membesar- besarkan diri, sombong dan angkuh atau merasa benar sendiri, tetapi hendaklah menimba sebanyak mungkin ilmu pengetahuan dari mana saja sepanjang serasi dengan ajaran agama dan budaya yang dianuti agar dapat hidup sejahtera lahiriah dan batiniahnya.


Di dalam ungkapan disebutkan:


tahu akan kurang dari lebihnya tahu akan cacat dari eloknya tahu akan bodoh dari cerdiknya tahu akan bekal belum banyak


tahu ke atas belum berpucuk tahu ke bawah belum berakar tahu di tengah belum berbatang

89

tahu umur belum setahun jagung tahu darah belum setampuk pinang


tahu bercakap belum petah tahu berunding belum masak tahu menimba ilmu orang tahu menyauk petuah orang


tahu duduk, duduk bangun tahu tegak, tegak bertanya tahu merantau mencari guru


supaya diam, diam berisi supaya bercakap, cakap bererti supaya bekerja, kerja menjadi supaya hidup, hidup terpuji


13) nilai tahu Diri


Nilai yang menyedari sepenuhnya hakikat hidup dan kehidupan di dunia dan menyedari pula akan adanya kehidupan di akhirat, tahu dirinya, tahu dari mana asalnya, tahu untuk apa hidup di dunia dan ke mana akhir hidupnya. Melekatnya sifat ini menyebabkan dirinya benar-benar menjadi orang yang “tahu diri”, yang tahu diri dengan perinya, tahu alur dengan patutnya,  tahu  duduk  dengan  tegaknya,  tahu  letak  dengan  tempatnya, tahu  menempatkan  dirinya  pada  tempat  yang  layak,  tahu  membawa dirinya  di  dalam  kehidupan  bermasyarakat,  berbangsa  dan  bernegara, tahu memahami hak dan kewajibannya, tahu menjalankan tugas yang dibebannya dan sebagainya.


Di dalam ungkapan disebutkan:


tahu diri dengan perinya tahu hidup dengan matinya tahu salah dengan silihnya
tahu gelanggang tempat bermain

90

tahu pangkalan tempat berlabuh tahu teluk timbunan kapar
tahu tanjung pumpunan angin tahu pasang menyentak naik tahu surut menyentak turun


tahu rumah ada adatnya tahu negeri ada undangnya tahu tepian ada bahasanya tahu galas bersandaran
tahu dagang bertepatan tahu asal mula datang tahu ujung tempat balik


14) nilai hidup Memegang amanah


Nilai setia memegang amanah, kukuh menjunjung sumpah, teguh memegang janji, tekun menjalankan tugas kewajiban, patuh menjalankan hukum dan undang, taat menjalankan agama, dan sebagainya.


Sifat ini memberi petunjuk betapa pentingnya perilaku yang memegang amanah, agar setiap amanah yang diterimanya, setiap tugas yang diberikan kepadanya, setiap kepercayaan yang dipercayakan kepadanya dapat dilaksanakan dan diwujudkan dengan sebaik-baiknya.


Di dalam ungkapan disebutkan:


yang disebut hidup memegang amanah taat setia kepada agama
taat setia kepada amanah taat setia kepada sumpah


mau mati memegang janji
mau binasa memegang petuah mau melarat memegang amanat

91

cakapnya dapat dipegang janjinya boleh disandang


15) nilai Benang arang


Sifat jujur dan lurus, atau dikatakan “berkata lurus bercakap benar”, sesuai kulit dengan isinya, sesuai cakap dengan perbuatannya, sesuai janji dengan buktinya, sesuai akad dengan buatnya, sesuai sumpah dengan karenahnya, dan seterusnya.


Sifat ini adalah cerminan keperibadian Melayu yang menjunjung tinggi kejujuran di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.


Di dalam ungkapan disebutkan:


lurus bagai benang arang lurusnya menahan bidik jujurnya menahan uji


sepadan takah dengan tokonya sepadan lenggang dengan langkahnya sepadan ilmu dengan amalnya
sepadan laku dengan buatnya sepadan cakap dengan perangainya


sesuai kulit dengan isinya sesuai lahir dengan batinnya


pepat di luar pepat di dalam runcing di luar runcing di dalam putih di luar putih di dalam


16) nilai tahan Menentang Matahari


Nilai berani dan pantang menyerah, tabah menghadapi musibah, mandiri dalam  hidup  dan  berusaha,  tidak  gentar  menghadapi  cabaran,  tangguh

92

menghadapi musuh, tahan menghadapi cobaan, berani menghadapi mati dan rela berkorban untuk membela kepentingan agama, masyarakat, bangsa dan negaranya, serta bertanggung jawab atas perbuatannya, dan sebagainya. Sifat ini ini dapat menjadikan dirinya sebagai seorang patriot bangsa dan pahlawan yang handal, sebagaimana dikatakan dalam pepatah: “esa hilang dua terbilang, pantang Melayu berbalik belakang atau dikatakan: “sekali masuk gelanggang, kalau tak berjaya nama yang pulang”.


Di dalam ungkapan disebutkan:


tahan menentang matahari tahan menentang mata pedang tahan menyilang mata keris tahan asak dengan banding tahan capak dengan ugut
tahan bergelang tali terap tahan berbedak dengan arang tahan berbantal dengan tumang


yang berani pada haknya yang kuat pada patutnya yang keras pada adilnya duduknya di tikar sendiri tegakknya di tanah sendiri hidupnya di negeri sendiri
matinya di perkuburan sendiri


17) nilai tahu Menyemak Pandai Menyimpai


Nilai yang penuh kearifan, bijaksana, tanggap dan cekatan dalam menilai sesuatu dan memutuskan sesuatu. Sifat yang piawai ini menjadikan dirinya mampu menyemak perkembangan masyarakat dan perubahan zamannya, mampu mengambil kebijakan yang tepat dan bermanfaat, mampu menyelesaikan permasalahan, dan sebagainya.


Di dalam ungkapan disebutkan:

93



arif menyemak kicau murai arif menapis angin lalu
arif mendengar desau daun arif menilik bintang di langit
arif menangkap kerlingan orang


bijak menepis mata pedang bijak membuka simpul mati


pandai mengurung dengan lidah pandai mengandang dengan cakap pandai mengungkung dengan syarak pandai menyimpai dengan adat pandai mengikat dengan  lembaga


cepat akal laju pikiran cepat angan laju buatan tajam mata jauh pandangan
nyaring telinga luas pendengaran


18) nilai Menang dalam kalah


Nilai piawai dalam bersiasat, mahir dalam menyusun strategi, sabar dan teliti dalam mencari peluang, unggul dalam berunding, berhemat cermat dalam mengambil keputusan, teliti dalam mengambil kebajikan, berdada lapang dan berpandangan luas dalam menyelesaikan masalah, dan memandang sesuatu dengan hari nurani yang jernih, dan sebagainya. Nilai ini juga mengajarkan untuk bersikap lapang dada, sabar dan mengalah dalam batas-batas tertentu untuk mencapai kejayaan dan tujuannya.


Di dalam ungkapan disebutkan:


yang menang dalam kalah yang lapang dalam sempit yang kaya dalam susah

94



lapang dada luas hati lapangnya tidak berhempang luasnya tidak berbatas dalamnya tidak terukur kayanya tidak tersukat beratnya tidak tertimbang


cerdik menjadi penyambung lidah berani menjadi pelapis dada kuatnya menjadi tiang sendi


kerasnya tidak tertakik lembutnya tidak tersudu lemahnya tidak tercapak kendurnya berdenting-denting tegangnya berjela-jela


19) nilai tahan Berkering Mahu Berbasah


Nilai tabah menanggung derita sengsara, sabar menghadapi cabaran dan cobaan hidup, gigih dan tahan dalam kemandirian, giat dan tekun dalam bekerja keras, teguh dalam menjalankan hak dan kewajibannya, serta kukuh dalam upaya mencapai cita-citanya.


Di dalam ungkapan disebutkan:


tahan berkering mau berbasah tahan digilis mau digiling berkering tidak mengelak digilas tidak terlindas
dicabar tidakkan gentar diugut tidakkan takut


tahan berkain sehelai sepinggang tahan berlapar membayar hutang

95



mau bersakat atas kepala mau mengekas dalam panas mau berembun dalam gelap mau disuruh sekali pergi mau dihimbau sekali datang


20) nilai tahu unjuk dengan Beri, tahu hidup Bertenggangan


Nilai pemurah, dermawan, setia membela dan membantu orang, tidak serakah dan tamak, tidak mementingkan diri sendiri, penuh tenggang rasa dan kesetiakawanan, ikhlas tolong menolong persebatian (persatuan dan kesatuan) dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, dan sebagainya. Di dalam peribahasa adat dikatakan, “mau seaib dan semalu, mau senasib sepenanggungan, mau ke bukit sama mendaki, mau ke lurah sama menurun, mau ke laut sama basah, mau ke darat sama berkering, mau mendapat sama berlaba, mau hilang sama merugi, dan sebagainya.


Di dalam ungkapan disebutkan:


tahu unjuk dengan beri
tahu menjalin gelegar patah tahu menjirat lantai terjungkat tahu menampal liang dinding


tahu menenggang hati orang
tahu menimbang perasaan orang tahu menjaga aib malu orang
tahu menutupi kekurangan orang


hidup sedusun tuntun-menuntun hidup sebanjar ajar-mengajar
hidup sekampung tolong-menolong hidup sedesa rasa-merasa
hidup senegeri beri-memberi hidup bersuku bantu-membantu

96

hidup berbangsa bertenggang rasa


yang searang sama dibagi yang sekuku sama dibelah yang secebis sama dicebis yang secelis sama dicelis


kalau makan tidak sendiri kalau senang tidak seorang


21) nilai timbang dengan sukat


Nilai  keadilan  dan  kebenaran,  adil  dalam  setiap  keputusan,  benar dalam setiap kebijakan. Orang tua-tua mengatakannya sebagai sifat: “menjunjung  adil  menegakkan  yang  benar”,  atau  dikatakan:  “adilnya tidak memandang bulu, benarnya tidak memilih kasih”.


Di dalam ungkapan disebutkan:


bila menimbang sama beratnya bila menyukat sama penuhnya bila membelah sama baginya bila mengukur sama panjangnya


sesuai sukat dengan timbangannya sesuai belah dengan ukurnya
sesuai peluh dengan upahnya sesuai penat dengan salahnya sesuai alur dengan patutnya


tingginya tidak menimpa kuatnya tidak mematah besarnya tidak melendan menangnya tidak melenjin


duduknya pada yang hak

97

tegaknya pada yang benar kasihnya tidak memilih sayangnya tidak berbilang


22) nilai tahu akan Malu


Nilai yang tahu menjaga aib dan malu, tahu mengawal tuah dan maruah, tahu memelihara nama baik diri dan keluarga, dan berpantang memberi malu orang serta pantang pula dipermalukan. Orang tua-tua mengatakan: “harga garam pada masinnya, harga manusia pada malunya”; atau dikatakan: “bila malu sudah menimpa, pangkat dan harta tiada berharga”; “bila malu sudah terkikis, tuah tercampak maruah pun habis”.


Di dalam ungkapan disebutkan:


yang disebut sifat malu malu membuka aib orang
malu menyingkap baju di badan malu mencoreng arang di kening malu melanggar pada syarak malu terlanda pada adat
malu tertarung pada lembaga malu merosak nama baik malu memutus tali darah
malu hidup menanggung malu malu mati tidak bermalu


23) nilai hidup Berpada-pada


Nilai  yang  tidak  suka  kepada  perbuatan  atau    pun  tindakan  yang terlalu  berlebih-lebihan,  tidak  kemaruk  kepada  harta,  tidak  serakah kepada pangkat dan kedudukan, tidak iri dan dengki kepada kelebihan dan kekayaan orang lain, tidak mabuk dunia dan lupa diri, tidak menghalalkan segala cara untuk merebut kekuasaan, dan sebagainya. Orang tua-tua mengatakan: “tahu mengukur bayang-bayang sepanjang badan”; atau dikatakan: “adat hidup berpada-pada, mencari harta berhingga-hingga,

98

mengejar pangkat berkira-kira, mensyukuri nikmat berlapang dada”.


Di dalam ungkapan disebutkan:


yang disebut sifat berpada-pada mengejar pangkat berkira-kira mengejar harta berhingga-hingga mengejar kedudukan berjaga-jaga


yang disebut sifat berpada-pada mencari pangkat berhemat-cermat mencari harta berjimat-jimat mencari kedudukan beringat-ingat


yang disebut sifat berpada-pada mengejar pangkat pada derajatnya mengejar harta pada patutnya mengejar kedudukan pada layaknya


pangkat jangan membawa mudarat harta jangan membawa nista kedudukan jangan membinasakan


selera jangan dimanjakan nafsu jangan diturutkan dunia jangan membutakan


ukur bayang-bayang sepanjang badan ukur ilmu dengan kemampuan


elok memakai pada yang sesuai elok berdiri pada yang serasi elok duduk pada yang seronok elok berjalan pada yang sepadan elok makan pada yang tertelan

99

24) nilai ingat dengan Minat


Sifat ingat kepada diri, ingat hidup akan mati, ingat segala tugas dan tanggung  jawabnya,  ingat  kepada  beban  yang  dipikulnya  dan  menaruh minat dan kepedulian yang sebesar-besarnya terhadap masyarakat dan lingkungannya, serta meminati dan mencermati berbagai perubahan, pergeseran nilai dan perkembangan yang terjadi di dalam masyarakat, bangsa dan negaranya.


Di dalam ungkapan disebutkan:


ingat beban yang dipikulnya ingat hutang yang disandangnya ingat hak dan kewajibannya ingat hidup dikandung adat
ingat mati dikandung tanah
ingat dusun dengan kampungnya ingat atap yang sebengkawan ingat pisang goyang-goyangan


ingat akan tiang yang terpalang ingat akan batang yang melintang ingat akan rumput yang menjemba ingat akan dinding yang teretas ingat akan lantai yang terjungkat ingat akan tunjuk dengar ajar
ingat akan amanah dengan petuah


yang ingat tiada bersukat yang minat tiada bertempat


minat kepada kaum kerabat minat kepada suku dan bangsa minat kepada alam sekitarnya minat membela saudara-mara minat menjaga kaum dan bangsa

100

minat memelihara tuah dan maruah minat menjunjung petuah amanah


25) nilai hemat dan Cermat


Nilai berhemat cermat, arif dalam berhitung cermat dalam berkira. Orang tua-tua mengatakan: “tahu berhemat menghitung hidup, arif berkira membilang masa, cermat menilik laba dan rugi”. Sifat ini menjauhkan dirinya dari perilaku yang “terburu nafsu”, menjauhkannya dari sifat ceroboh, tanpa perhitungan dan sebagainya.


Di dalam ungkapan dikatakan:


tahu hidup berhemat-hemat tahu berkira secara cermat
tahu berhitung membaca alamat tahu mengekang nafsu menyesat tahu menjaga selera nekat


mengatur hidup ianya cermat mengatur harta ianya hemat mengatur nafsu ianya dapat mengatur selera ianya kuat


laba dan rugi ianya ingat
mudanya sejahtera tuanya selamat sampai mati takkan melarat


26) nilai tahu harta Berpunya, tahu Pinjam Memulangkan


Nilai yang menghormati, menghargai, dan memelihara hak-hak orang lain, dan bertanggungjawab atas hak orang lain yang dipakainya atau dipinjamnya atau dipercayakan kepadanya.


Di dalam ungkapan dikatakan:

101

adat hak ada berpunya
adat menjemput menghantarkan adat meminjam memulangkan adat mengantar sampai-sampai adat memulangkan elok-elok


hak orang sama dipandang hak orang sama dijaga
milik orang sama dipelihara yang pinjam sepanjang boleh
yang memulangkan sebelum sudah


27) nilai tahu hidup Meninggalkan, tahu Mati Mewariskan


Nilai yang menyedarkan orang untuk berkarya, berbuat kebajikan, berbuat budi dan jasa selama hidupnya, serta mewariskan nilai-nilai luhur agama dan budaya, mewariskan karya dan jasa, mewariskan nama baik, mewariskan keteladanan dan perilaku terpuji dan sebagainya, yang  memberi faedah dan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat, bangsa dan negaranya.


Di dalam ungkapan disebutkan:


yang disebut hidup meninggalkan meninggalkan syarak tempat berpijak meninggalkan adat tempat menepat meninggalkan lembaga tempat berjaga meninggalkan budi yang terpuji meninggalkan contoh yang senonoh meninggalkan teladan yang sepadan meninggalkan nama yang mulia meninggalkan petuah yang berfaedah meninggalkan kaji yang berisi meninggalkan pusaka yang berharga meninggalkan anak yang dipinak meninggalkan harta yang berguna meninggalkan dunia dengan bekalnya.

102

28) nilai lasak Mengekas, tekun Mengais


Nilai lasak dalam berusaha, tekun dalam bekerja keras, cerkas dalam mencari peluang hidup, bersemangat dalam berkarya, aktif dan rajin menciptakan peluang kerja untuk memenuhi semua keperluan hidup diri, keluarga, masyarakat dan bangsanya. Orang tua-tua mengatakan, bahawa sifat ini adalah cerminan dari rasa kemandirian dalam menghadapi hari depannya agar dapat  “duduk sama rendah dan tegak sama tinggidengan masyarakat atau bangsa lainnya, serta melepaskan dirinya dari sifat ketergantungan kepada orang lain.


Di dalam ungkapan dikatakan:


lasak mengekas takkan melengas tekun mengais rezeki tak habis rajin bekerja takkan terhina
mau bersusuah hidup menakah mau berpenat hidup selamat mau berlenjin hidup terjamin


dalam bersusah banyak faedah dalam berpenat banyak yang dapat dalam berletih banyak yang boleh dalam bekerja banyaklah jasa



29) nilai Menggulut air setimba


Nilai   menghargai   dan   memanfaaatkan   waktu   dengan   sebaik- baiknya, berdisiplin, pantang berlengah-lengah dan pantang bermalas- malas atau membuang-buang masa. Orang tua-tua mengatakan: “siapa menyia-nyiakan  masa,  alamat  dirinya  akan  binasa  atau  dikatakan: “bila mudanya membuang waktu, tuanya kelak menjadi hantu”, atau dikatakan: “bila hidup bermalas-malas mudanya rugi tuanya kandas”. Ungkapan  adat  menegaskan:  “apabila  masa  dibuang-buang,  di  dunia rugi di akhirat terbuang”.

103

Di dalam ungkapan dikatakan:


bagai menggulut air setimba bila lengah tekak dahaga
bila lalai mulut ternganga bila malas tumbuh bencana


elok berjalan ketika pagi elok memerun ketika panas elok menuang ketika cair elok bekerja selagi muda elok melihat sebelum buta
elok mendengar sebelum pekak elok bertanya sebelum sesat elok berguru sebelum malu


yang masa takkan tersangga yang umur takkan terukur yang waktu takkan menunggu


bila ‘dah lepas kijang ke rimba dikejar diunut pun sia-sia


bila hidup di pintu ajal takkan berguna segala sesal


30) nilai Merendah Menjunjung tuah


Nilai rendah hati (bukan rendah diri), tidak sombong dan tidak angkuh, tidak membesar-besarkan diri, tidak merendahkan orang lain, tidak membangga- banggakan keturunan, tidak menyombongkan pangkat dan harta, tidak melebih- lebihkan ilmu sendiri, tidak “besar kepala dan besar bual dan sebagainya.


Orang tua-tua mengatakan: “adapun sifat Melayu terpuji, lidahnya lembut dan rendah hatiatau dikatakan: “yang disebut Melayu terbilang, hatinya rendah dadanya lapang.

104

Di dalam ungkapan dikatakan:


Sifat merendah menjunjung tuah rendahnya tidak membuang maruah rendahnya tidak mengambil muka rendahnya tidak mengada-ngada rendah menurut alur patutnya


rendah mengikut pada adatnya rendah berpunca pada adabnya


rendah mengangkat tuah diri rendah menjaga budi pekerti rendah tak dapat diperjual beli pantang merendah kepala dilapah pantang merendah minta sedekah
pantang merendah dimakan sumpah pantang merendah aib terdedah



31) nilai lapang Dada terbuka tangan


Sifat pemaaf dan pemurah, orang tua-tua mengatakan: “tanda Melayu berdada lapang, ikhlas memaafkan kesalahan orang, tolong menolong tiada kurang, bercakap sama muka belakang, bertindak suka berterang-terang”.


Orang tua-tua selalu mengingatkan agar menjauhi sifat yang suka berdendam kesumat, sebagaimana dikatakan “apabila hidup dendam- mendendam, ke darat sesat ke laut karam”; atau dikatakan: “apabila hidup berdendam kesumat, kemana pergi takkan selamat”.


Di dalam ungkapan dikatakan:


sifat lapang terbuka tangan hatinya bersih berpalut iman kesalahan orang ia lupakan

105

kesusahan orang ia rasakan dendam kesumat ia jauhkan


sifat orang berdada lapang
tahu merasa bijak menenggang tahu menjaga aib malu orang tahu menghapus muka berarang


sifat orang terbuka tangan cepat kaki ringan tangan
tahu menolong orang berbeban bijak membantu dalam kesempitan


32) nilai Berbaik sangka


Nilai yang selalu bersangka baik kepada orang dan berpantang bersangka   buruk.   Orang   tua-tua   mengatakan:   “apa   tanda   Melayu terbilang, bersangka baik kepada orang, bersangka buruk ia berpantang”; atau dikatakan: “apabila selalu berbaik sangka, ke mana pergi orang akan suka”, sebaliknya dikatakan: “apabila suka bersangka buruk, mudanya rosak tuanya teruk”.


Di dalam ungkapan dikatakan:


adapun sifat berbaik sangka menghujat mengeji ia tak suka bergaul dengan bermanis muka siapa datang ia terima
siapa bercakap ia percaya


33) nilai yang Pucuk


Sifat kepimpinan sejati yang semestinya dimiliki oleh setiap orang yang dijadikan pemimpin atau dituakan oleh masyarakatnya, atau yang dikemukakan oleh kaum dan bangsanya. Sifat ini intinya mencakupi beragam sifat mulia yang terdapat di dalam tamadun Melayu yang Islami

106

seperti: beriman dan bertaqwa kepada Allah, berbudi pekerti mulia, berperangai terpuji, berlaku arif dan bijaksana, bertindak adil dan jujur, berlidah  lembut,  bermulut  manis,  berkepribadian  mulia  dan  tenggang rasa, berfikiran jernih berdada lapang, berwawasan luas dan berpandangan jauh ke depan, cerdas dan tangkas, berani dan tabah, setia dan amanah, memiliki ketangguhan menghadapi cabaran dan tantangan zaman, mampu hidup mandiri, percaya diri dan sebagainya.


Orang tua-tua mengatakan, “sifat pucukini hakikatnya adalah cerminan dari sifat-sifat mulia yang dianjurkan oleh ajaran Islam dan tamadun Melayu. Kerananya, sifat ini lazimnya disebut “sifat tuaatau “sifat Jati”.


Selanjutnya dikatakan: “apabila hendak menjadi orang, sifat yang pucuk harus dipegang”; atau dikatakan: “apabila hendak menjadi manusia, sifat yang pucuk jadi pakaitannya”; atau dikatakan: “tanda manusia sempurna akhlak, sifat yang pucuk tempatnya tegak”; atau dikatakan: “tanda orang sempurna budi, sifat yang pucuk ia hayati”; atau dikatakan: “apa tanda Melayu terbilang, sifat yang pucuk yang ia pegang”.


Di dalam ungkapan disebutkan:


yang disebut sifat yang pucuk di adat menjadi pucuk adat
di hulukan menjadi pucuk penghulu di majlis menjadi pucuk rundingan di helat menjadi pucuk kata
di hilirkan menjadi pucuk lembaga


raja tidak membuat daulat datuk tidak membuang maruah penghulu tidak membuang tuah hulubalang tidak membuang kuat alim tidak membuang kitab tukang tidak membuang bahan cerdik tidak membuang pandai




tahu menyelesaikan rantau kusut

tahu menjernihkan tepian keruh
tahu menghapus arang di kening tahu membayar hutang baris
tahu meniti mata pedang tahu menurut alur patutnya tahu belah dengan baginya tahu sifat dengan tabiatnya tahu memutus dengan syarak tahu menimbang dengan adat
tahu menyukat dengan lembaga tahu mencencang dengan undang


putus tidak membinasakan timbang tidak memberatkan sukat tidak menyesatkan cencang tidak mematikan tahu menghitung-hitung diri
tahu membilang bayang-bayang tahu menilik angan-angan
tahu membaca cewang di langit


yang berumah berpintu dua pintu muka menjemput adat pintu belakang menebus malu


yang berunding tidak berdinding dinding terletak di orang banyak yang bercakap tidak dipekap kalau dipekap ada adatnya kayanya tempat meminta
tuanya tempat bertanya mudanya tempat menyeraya


tegaknya di tengah-tengah ke kiri tidak melanda



ke kanan tidak mengena
kalau melanda dengan syarak kalau mengena dengan adat


ke laut dia tak hanyut ke darat dia tak sesat ke hulu dia tak malu
ke hilir dia tak mungkir
besarnya tidak mengharapkan gelar kecilnya tidak mengharap kasihan
................................................ (dan seterusnya)


Nilai-nilai asas adat dan budaya Melayu yang diuraikan di atas, bila dicerna, dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari baik di rumah tangga maupun dalam bermasyarakat, mewujudkan rasa sejahtera, tentulah dapat mewujudkan rasa sejahtera lahiriah dan batiniah. Nilai- nilai ini tentulah terdapat pula di dalam adat dan budaya masyarakat lainnya, sehingga memudahkan untuk merajut dan menyulamnya dalam keberagaman suku dan puak.


Dahulu, di dalam upacara-upacara adat dan tradisi, ungkapan-ungkapan yang menjabarkan nilai-nilai ini diketengahkan oleh orang yang dituakan, para cerdik pandai, alim ulama dan sebagainya, sehingga dapat diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasinya. Kegiatan ini lazimnya disebut “menyampaikan tunjuk ajaratau “mengekalkan petuah amanahkepada anak-kemenakan dan kaum sukunya.


Tradisi untuk mewariskan nilai-nilai luhur ini, menunjukkan betapa orang Melayu amat memperhatikan anak dan kaum bangsanya. Adanya “tunjuk ajar” itu menyebabkan setiap orang dapat lebih memahami nilai-nilai dimaksud, kemudian mengupayakan agar dirinya, anak-anak dan keluarganya dapat menyerap dan menjadikan nilai-nilai luhur adat dan budayanya.


Melalui uraian di atas diharapkan semakin muncul kesedaran semua pihak untuk menggali, membina, mengembangkan dan mencerna serta menghayati nilai-nilai budaya Melayu, sehingga kebudayaan Melayu yang

109


Islami ini dapat tetap kukuh dalam kehidupan orang-orang Melayu, dan dapat mengekalkan “jati diri kemelayuannya. Kita tentu memiliki kesamaan pandangan, bahawa nilai-nilai budaya Melayu yang Islami adalah universal dan serasi serta bermanfaat untuk segala zaman. Betapa pun majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, betapa pun lajunya perubahan dan teknologi, betapa pun lajunya perubahan dan pergeseran nilai-nilai budaya, betapa pun terbukanya dunia dengan globalisasi total, tentulah diharapkan agar nilai-nilai asas budaya Melayu ini tidak tergeser dan terabaikan. Justeru nilai-nilai inilah yang diharapkan mampu membentengi alam Melayu dari berbagai cabaran yang dapat merosak akhlak manusia.


Sekarang kehidupan terasa semakin berat menghadapi tantangan “intervensibudaya luar, yang belum tentu serasi dan sejalan dengan nilai- nilai asas budaya Melayu yang Islami. Kehidupan masa kini dan masa depan yang semakin terdedah, semakin membuka peluang terjadinya pergeseran, perubahan dan penghikisan nilai-nilai budaya Melayu. Kenyataaan ini tentulah patut dicemaskan, terutama dengan semakin maraknya perlaku yang tidak lagi mencerminkan perlaku manusia yang berada dan berbudaya, tidak lagi mencerminkan perilaku Melayu yang Islami, santun dan berbudi tinggi. Di mana-mana terjadi peningkatan kemaksiatan, prostitusi, narkoba, perjudian, tindakan kejahatan dan sebagainya. Di mana-mana terjadi krisis kepimpinan dan krisis kepercayaan, terjadi tindakan-tindakan kekerasan, terjadi pertembungan dan perkelahian masalah antara suku dan puak, terjadi hujat-menghujat dan saling berburuk sangka dan sebagainya. Sekarang sebahagian orang bangga dengan perlaku “kasar langgar”, bangga dengan kesombongan dan keangkuhan membabi buta. Sebahagian lagi sudah terpuruk ke dalam limbah keserakahan dan ketamakan, serakah kepada harta dan dunia, tamak kepada pangkat dan jabatan, sehingga “lupa diri” dan “mabuk dalam kepentingan peribadi dan kelompoknya”.


Sekarang orang nyaris tidak lagi memiliki rasa malu, kerananya tidak segan-segan menghalalkan segara cara untuk mencapai tujuannya. Orang seakan tidak lagi menghargai sesamanya, tidak lagi menghormati hukum, seakan tidak ada lagi nilai sopan santun. Semuanya memberi petunjuk bahawa  bangsa  kita  umumnya,  termasuk  puak  Melayu,  sudah  dicemari oleh perilaku yang “menyalah”, yang dapat memuluhlantakkan sendi-sendi

110

keimanan dan ketaqwaan, yang membinasakan nilai-nilai budaya dan agama.


Kenyataan ini seharusnya disemak dengan arif, agar bangsa ini tidak semakin hanyut ke dalam lembah kenistaan, dan salah satu upaya yang perlu dilakukan adakah dengan meningkatkan upaya-upaya menanamkan nilai-nilai mulia budaya Melayu yang Islami ke dalam diri setiap insan Melayu dalam erti yang seluas-luasnya.


Kerananya, diharapkan kepada semua pihak untuk tidak berlengah- lengah  mencermati  perubahan  dan  pergeseran  nilai  budaya  dimaksud, agar Melayu yang bertuah, Melayu yang bermaruah, beriman dan bertaqwa, tidak hilang dari permukaan bumi ini. Dengan demikian, apa yang diamanahkan Laksamana Hang Tuah:Tuah sakti hamba negeri, esa hilang dua terbilang, patah tumbuh hilang berganti, takkan Melayu hilang di bumi akan dapat diwujudkan dengan sebaik-baiknya.


saranan


Menyemak keadaan masyarakat, bangsa dan negara kita sekarang nyaris kehilangan jati diri kerana banyak kehilangan nilai-nilai luhur adat budaya, menurunnya rasa nasionalis sebagai bangsa kerana menonjolnya rasa kedaerahan yang sempit, serta terjadinya beragam krisis, mulai krisis ekonomi, politik, kepimpinan dan yang terparah adalah krisis moral (akhlak), disarankan untuk:


1. Meningkatkan upaya penggalian, pembinaan, pengembangan dan pemahaman  nilai-nilai  luhur  adat  dan  budaya  oleh  masing-masing suku dan puak yang menjadi jati dirinya. Upaya ini dapat disebut “memelayukan orang Melayu, menjawakan orang Jawa, membatakkan orang Batak, membugiskan orang Bugis, menyundakan orang Sunda, mengacehkan orang Aceh, dan seterusnya, yang intinya mengembalikan mereka kepada nilai-nilai luhur yang mereka warisi turun temurun.


2. Meningkatkan upaya pewarisan nilai-nilai luhur adat dan budaya masing-masing suku dan puak kepada generasi mudanya, agar mereka menjadi generasi yang berjati diri, beradat dan berbudaya luhur pula.

111


3.  Melakukan pertukaran informasi antara suku dan puak tentang adat dan  budaya  untuk  memudahkan  mencari  benang  merah  kesamaan yang dapat dijadikan sebagai perekat pemersatu bangsa.


4.  Membentuk forum-forum adat dan budaya lintas suku dan puak sebagai wadah bersama untuk membangun dan mengekalkan adat dan budaya bangsa sebagai jati diri bangsa Indonesia yang majmuk.


5.  Memfungsikan secara optimal para pemangku dan pemuka adat dan budayawan dari setiap suku dan puak serta melibatkan mereka di dalam merancang dan melaksanakan pembangunan di kawasan masing- masing, agar pembangunan dapat wujud menjadi pembangunan yang mencerminkan budaya tempatan.


6.  Melibatkan secara langsung para tokoh dan adat budayawan dalam upaya memberantas kemaksiatan, atau memberantas hal-hal yang dianggap tidak sesuai dengan tatanan nilai adat dan budaya tempatan.


7.  Meningkatkan pembelajaran budaya tempatan melalui muatan lokal di sekolah-sekolah atau lembaga-lembaga pendidikan, mulai dari peringkat terendah sampai keperguruan tinggi, termasuk sanggar- sanggar dan organisasi kemasyarakatan dalam arti luas.


8. Memanfaatkan kemajuan sains dan teknologi untuk mengimpun, mengkaji, memartabatkan dan mengekalkan nilai-nilai asas budaya, dan


9.  Usaha-usaha lain sesuai dengan kemampuan dan peluang yang ada, termasuk upaya pencapaian visi dan misi masing-masing daerah.


kesiMPulan


Kita meyakini bahawa setiap suku dan puak bangsa Indonesia pastilah memiliki nilai-nilai asas budaya dan adat istiadatnya, yang turun-temurun mereka jadikan acuan dan jati dirinya, dan kita yakin, nilai-nilai dimaksud mengandung tunjuk ajar dan petuah amanah yang dapat dijadikan simpai

112

pemersatu bangsa, serta mampu mewujudkan kehidupan yang aman, damai dan sejahtera. Kerananya, dengan beranjak dari nilai-nilai luhur dan kearifan yang piawai itu bangsa kita akan menjadi bangsa yang beradab, menjadi bangsa yang bertamadun tinggi, yang mampu mengekalkan kehidupan sejahtera lahiriah dan batiniahnya.


Dari  sisi  lain,  pembangunan  yang  berlandaskan  budaya  sendiri, akan dapat mewujudkan pembangunan yang berjati diri bangsa yang memancarkan nilai-nilai budaya bangsa dalam keberagaman, yang mencerminkan jati diri yang kokoh, mampu menghadapi cabaran serta memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi seluruh rakyat. Dari sanalah kita memperlihatkan kepada dunia luar, bahawa perbezaan suku, puak, agama dan kepercayaan tidaklah menyebabkan perpecahan, tetapi sebaliknya menjadi modal utama dalam membangun kehidupan yang bermartabat, bermaruah, terbilang dan cemerlang.
Semoga kita semua dirahmati Allah. Wallahu a’lam.
Tumbuh rumput di tepi pagar,
Akar benalu menjalar juga; Tujuh laut boleh terbakar, Kapal Melayu berlayar juga.


Di mana biduk di sana pencalang, Bila bergalah sama dimudiki; Mana yang elok bawalah pulang, Apabila menyalah kita perbaiki.










*  Dikutip dari buku “Bab Al-Qawa’id (1901 M); transliterasi dan Analisis, OK Nizami Jamil dkk, Bappeda Kabupaten Siak 2002, hal. 74-75.

113

ruJukan


Datuk Dr Tengku Said Nasaruddin Said Effendy (2013), Tunjuk Ajar Melayu tentang Sikap Mandiri dan Percaya Diri, Lembaga Adat Melayu.
Datuk Dr Tengku Said Nasaruddin Said Effendy (2012), Nilai-Nilai Asas Jati Diri Melayu: Sebagai Perekat Kehidupan Bermasyarakat Berbangsa dan Bernegara, Lembaga Adat Melayu.
Datuk Dr Tengku Said Nasaruddin Said Effendy (2012), Tunjuk Ajar Melayu dalam Pantun, Gurindam dan Seloka, Lembaga Adat Melayu.
Datuk Dr Tengku Said Nasaruddin Said Effendy (2012), Syair Melayu (An Epic
Poem on the Fate of the Malays), Lembaga Adat Melayu